Kamis, 10 Januari 2019

Makalah Sejarah Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
      Abbasiyah berasal dari kata Al-Abbas, yaitu salah satu keturunan dari Bani Hasyim yang termasuk paman dari Nabi Muhaammad SAW. Bani Hasyim merupakan mitra politik Bani Umayyah sejak zaman jahiliyah sampai kelahiran islam, juga pada saat Bani Umayyah berkuasa.
      Dinasti Abbasiyah adalah pengubah peradaban dunia Islam setelah Dinasti Umayyah, yakni selama 5 abad, dari 750-1258M. Pada zaman Abbasiyah, konsep kekhalifahan (pemerintahan) berkembang sebagai sistem politik. Pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sisial, ekonomi dan budaya.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimana awal terbentuknya Dinasti Abbasiyah?
1.2.2        Faktor apa saja yang menyebabkan kemajuan Dinasti Abbasiyah?
1.2.3        Faktor apa saja yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah?
1.2.4        Faktor apa saja yang menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah?
1.3  Tujuan Penulisan Makalah
1.3.1        Untuk mengetahui terbentuknya Dinasti Abbasiyah
1.3.2        Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kemajuan Dinasti Abbasiyah?
1.3.3        Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah?
1.3.4        Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah?





BAB II
PEMBAHASAN
A. Berdirinya Dinastii Abbasiyah
1. Latar Belakang Terbentuknya Dinasti Abbasiyah
            Pemerintahan daulah Abbasiyah yang didirikan pada tahun 132/750M. Merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Umayyah. Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan antara kekuasaan dinasti umayyah dengan kekuasaan dinasti Abbasiyah, yaitu :
a.       Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab Oriented, artinya dalam segala hal dan bidang para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni. Begitupun cara peradaban yang dihasilkan pada masa kekuasaan dinasti ini.
b.      Dinasti Abbasiyah, disamping bercorak arab murni, juga telah terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, romawi timur, Mesir, dan sebagainya.[1]
            Abbasiyah berasal dari kata Al-Abbas, yaitu salah satu keturunan dari Bani Hasyim yang termasuk paman dari Nabi Muhaammad SAW. Bani Hasyim merupakan mitra politik Bani Umayyah sejak zaman jahiliyah sampai kelahiran islam, juga pada saat Bani Umayyah berkuasa.
      Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan, melanjutkan kekuasaan Bani Umayyah, dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Suffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaanya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H / 750 M s/d 656 H / 1258 M. selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya.[2] Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :
a.       Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
b.      Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
c.       Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
d.      Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasni Bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Turki kedua.
e.       Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaanya hanya efektif disekitar kota Baghdad.[3]

            Langkah-langkah Bani Abbas untuk mendirikan daulah Abbasiyah
1.      Membentuk gerakan bawah tanah.
Tokoh yang berperan :
-          Muhammad Al-Abbas
-          Ibrohim Al-Imam
-          Abu Muslim Khurasani
2.      Menerapkan politik bersahabat, artinya keturunan Abbas tidak menunjukan sikap permusuhan dengan pemerintahan Bani Umayyah.
3.      Dalam gerakannya menanggalkan nama Bani Abbas, tetapi Bani Hasyim. Tujuan dari penggunaan nama tesebut adalah agar mendapat dukungan dari kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib, karena berasal dari Bani Hasyim.
4.      Menetapkan wilayah Khurasan sebagai pusat gerakan politik Bani Abbas di bawah pimpinan Abu Muslim Al-Khurasani[4]
Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekadar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus, dan India.[5]
Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:
Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)
2. Silsilah Bani Abbasiyah
            Dalam silsilah Bani Abbasiyah terdapat 3 keluarga besar yang ingin merebut kukuasaan[6]. Keluarga terbut adalah :
a.       Keluarga Ali bin Abi Thalib (keluarga Syi’ah)
b.      Keluarga Umayyah
c.       Keluarga Abbas
            Para tokoh yang mempunyai peran penting dalam proses berdirinya Dinasti Abbasiyah yaitu :
a.      Muhammad bin Ali
            Muhammad bin Ali adalah tokoh utama dalam peendirian Dinasti Abbasiyah. Ia ini berhasil menghimpun kekuatan dan memiliki pengikut-pengikut yang setia, terutama di daerah Khurasan.
b.      Abdulloh bin Muhammad
            Abdulloh bin Muhammad bergellar Abu Abbas As-Safah. Ia mmeneruskan usaha ayahnya dalam gerakan dakwah setelah berhasil menumbangkah Khalifah Marwan bin Muhammad sebagai khalifah Bani Umayyah terakhir (132H/750M). Abu Abbas As-Safah adalah Khalifah pertama dan di anggap sebagai pendiri kekhalifahan Bani Abbasiyah (132-136H/750-754M).
c.       Abu Muslim Al-Khurasani
            Abu Muslim Al-Khurasani merupakan tokoh penting gerakan Dinasti Abbasiyah. Setelah kelompok Abbasiyah cukup kuat kemudian menyerang Bani Umayyah, di bawah komandi Abu Muslim Al-Khurasani sendiri. Gerakan ini berakhir setelah Marwan bin Muhammad dari Bani Umayyah tumbang pada tahun 132H/750M.
            Gerakan Abu Muslim Al-Khurasani di mulai dari daerahnya sendiri. Gubernur Khurasan ketika itu dijabat oleh Nasr bin Sayyar yang berasal dari suku arab Qaisy. Abu Muslim Al-Khurasani bersekutu dengan suku Srab Yamani di Khurasan yang dipimpin oleh Al-Kirmani untuk meruntuhkan Gubernur Nasr bin Sayyar. Akhirnya Abu Muslim Al-Khurasani berhasil menduduki Kota Merv dan Nasabur. Dengan demikian, sejarah Abu Muslim Al-Khurasani tak bisa lepas dari sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah.[7]
3. Perkembangan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
            Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan islam semakin bertambah[8]. Baghdad sebagai pusat pemerintahan mengawasi pusat-pusat pemerintahan daerah yang berbeda di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Perluasan kekuasaan dan pengaruh islam bergerak ke wilayah timur asia tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mahdi (158-169H/775-785M).
            Serangan yang dilancarkan oleh penguasa Byzantium dapat ditangkis oleh pasukan islam pada masa pemerintahan khalifah Al-Mansur 138H. Kemudian pada masa khalifah Al-Mahdi 165H. Umat islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji membayar upeti. Pada masa Dinasti Abbasiyah ini, wilayah kekuasaan islam amat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain : Hijaz,Yaman Utara dan Yaman Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan.
            Daerah-daerah tersebut memang belum sepenuhnya berada di wilayah Bani Umayyah. Namun, di masa kekuasaan Bani Abbasiyah, perluasan daerah dan penyiaran islam semakin berkembang, sehingga meliputi daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia, dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah barat.
            Seluruh wilayah yang telah masuk ke dalam wilayah kekuasaan islam tersebut, tidak seluruhnya dibawah kekuasaan dinasti Abbasiyah, seperti Andalusia, Afrika Utara dan Mesir, Syam, serta India dan sebagainya.
            Secara umum dapat dikatakan, bahwa pemerintahan dinasti Abbasiyah mampu mengembangkan dan memajukan peradaban islam, sehingga dinasti ini mencapai puncak kejayaannya. Karena para penguasanya banyak memberikan dorongan kepada para ilmuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam segala bidang kehidupan, dan tidak hanya terfokus pada satu bidang saja[9].
B. Kemajuan Dinasti Abbasiyah
            Masa ini adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan. Rincian berbagai kemajuan tersebut, dapat dilihat dari temuan Philip K. Hitti[10] sebagai berikut :
1.      Biro-biro Pemerintahan Abbasiyah
            Dalam menjalankan sistem teknis pemerintahan, Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawas (dewan az-zimani) yang pertama kali diperkenalkan oleh Al-Mahdi; dewan korespondensi atau kantor arsip (dewan at-tawqi) yang menangani semua surat resmi, dokumen politik serta instruksi dan ketetapan khalifah; dewan penyelidik keluhan; departemen kepolisian dan pos. Dewan penyelidik keluhan (dewan an nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding, atau pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada departemen administratif dalam politik. Cikal bakal dewan ini dapat dilacak pada masa Dinasti Umayyah, karena Al-Mawardi meriwayatkan bahwa Abd Al-Malik adalah khalifah pertama yang menyediakan satu hari khusus untuk mendengar secara langsung permohonan dan keluhan rakyatnya. Umar II meneruskan praktik tersebut. Praktik itu kemudian diperkenalkan oleh Al-Mahdi kedalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Penggantinya, Al-Hadi, Harun, Al-Ma’mun, dan khalifah selanjutnya menerima keluhan itu dalam sebuah dengar publik; Al-Muhtadi (869-870) adalah khalifah terakhir yang memelihara kebiasaan tersebut. Raja Normandia, Roger II, (1130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut ke Sisilia, yang kemudian mengakar di daratan Eropa.
2.      Sistem Militer
            Sistem militer teroganisasi dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara reguler. Paukan pengawal khalifah (hams) mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masiing mengepalai sekelompok pasukan. Selain mereka, ada juga pasukan bayaran dan sukarelawan, serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik. Pasukan tetap (jund) yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berkala oleh pemerintah). Unit pasukan lainnya disebut mutha-thawi’ah (sukarelawan), yang hanya menerima gaji ketika bertugas. Kelompok sukarelawan ini, direkrut dari orang baduy, para petani, dan orang kota. Pasukan pengawal istana memperoleh bayaran lebih tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam. Pada masa-masa awal pemerintahan khalifah Dinasti Abbasiyah, rata-rata gaji pasukan infanteri, disamping gaji dan santunan rutin sekitar 960 dirham pertahun, pasukan kavaleri menerima 2x lipat dari itu.
3.      Wilayah pemerintahan
            Pembagian wilayah kerajaan Umayyah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur (tunggal amir atau ‘amir) sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan[11] bizantium dan persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa Dinasti Abbasiyah. Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Ishthakhri, Ibn Hawqal, Ibn Al-Faqih, dan karya-karya sejenis. Berikut ini merupakan provinsi-provinsi utama pada masa awal kekhalifahan Baghdad :
a.       Afrika di sebelah Barat Gurun Libya bersama dengan Sisilia
b.      Mesir
c.       Suriah dan Palestina yang terkadang dipisahkan
d.      Hijaz dan Yamamah (Arab Tengah)
e.       Yaman dan Arab Selatan
f.       Bahrain dan Oman dengan Bashran dan Irak sebagai Ibu Kotanya
g.      Sawad atau Irak (Mesopotamia Bawah) dengan kota utamanya setelah Baghdad, yaitu Kuffah dan Wash
h.      Jazirah (yaitu kawasan Assyria Kuno, bukan semenanjung Arab), dengan Ibu Kota Moshul
i.        Azerbaijan, dengan kota-kota besarnya, seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah
j.        Jibal (perbukitan, media kuno), kemudian dengan Irak Ajami (Iraknya orang Persia), dengan Kota utamanya adalah Ramadhan.
4.      Perkembangan bidang pertanian
            Bidang pertanian maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahannya, berada didaerah yang sangat subur, di tepian sungai yang dikenal dengan nama Sawad. Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli, yang statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru. Lahan-lahan pertanian yang terlatar, dan desa-desa yang hancur diberbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap. Di daerah rendah di lembah Tigris-Efrat, yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan dipandang sebagai surga.
            Tanaman asli Irak adalah gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami. Daerah yang sangat subur berada di bantaran tepian sungai ke selatan Sawad, yang menumbuhkan berbagai jenis buah dan sayuran yang tumbuh di daerah panas maupun dingin. Kacanng, jeruk, terong, tebu, dan beragam bunga, seperti bunga mawar, dan violet juga tumbuh subur.
5.      Islamisasi Masyarakat
            Sebanyak 5000 orang kristen Banu Tanukh didekat Allepo mengikuti pemerintah khalifah Al-Mahdi untuk masuk islam. Proses konfersi secara normal berjalan lebih gradual, damai, dan bersifat pasti. Kebanyakan konfersi yang dilakukan oleh penduduk taklukan didorong oleh motif kepentingan individu, agar terhindar dari pajak dan sejumlah aturan lain yang membatasi, agar mendapat prestise sosial dan pengaruh politik, serta menikmati kebebasan dan keamanan yang lebih besar. Penduduk Persia baru beralih ke agama islam pada abad ke-3 setelah wilayah itu di kuasai islam. Sebelumnya mereka menganut Zoroaster.
C. Faktor Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Berakhirnya kekuasaan dinasti Saljuk atas Baghdad atau khalifah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan atau dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya yang cukup besar. Namun yang banyak adalah dinasti kecil. Di samping kelemahan khalifah, banyak faktor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain.
1. Faktor dari dalam (intern)[12] penyebab mundurnya dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut :
a. Kemewahan hidup di kalangan penguasa
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang diraih Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup serba mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah daripada pendahulunya. Kondisi ini berpeluang kepada tentara profesional asal Turki untuk mengambil alih kendali pemerintahan.
b.      Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abasiyah
Perebutan kekuasaan keluarga Bani Abasiyah dimulai sejak masa Al-Ma'mun dengan Al-Amin. Ditambah dengan masuknya unsur Turki dan Persia. Setelah Al-Mutawakkil wafat, pergantian khalifah terjadi secara tidak wajar. Dari kedua belas khalifah pada periode kedua Dinasti Abbasiyah, hanya empat orang khalifah yang wafat dengan wajar. Selebihnya, para khalifah wafat karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa.
c. Konflik keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat, yaitu : pengikut Muawiyah, Syi'ah, dan Khawarij. Ketiga kelompok tersebut senantiasa berebut pengaruh. Yang paling berpengaruh pada masa kekhalifahan Muawiyah maupun Abbasiyah adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi'ah. Walaupun pada masa-masa tertentu antara kedua kelompok tersebut saling mendukung. Misalnya pada masa pemerintahan Buwaihi, antara kelompok yang tak pernah ada satu kesepakatan.
2. Faktor dari luar (ekstern) penyebab mundurnya dinasti Abbasiyah[13] adalah sebagai berikut:
     a. Banyaknya pemberontakan
     Banyaknya daerah yang dikuasai oleh khalifah, akibat kebijakan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan islam, secara real, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur yang bersangkutan. Akibatnya, provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbas.
Adapun cara mereka melepaskan diri dari kekuasan Baghdad dengan dua cara, yaitu :
Pertama : seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti Daulah Umayah di Spanyol dan Indrisiyah di Maroko.
Kedua : seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah, kedudukannya semakin bertambah kuat. Kemudian melepaskan diri, seperti daulat Aglabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Kurasan.
     b. Dominsai bangsa Turki
     Sejak abad kesembilan, kekuatan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah memperkerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki. Kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima.
      Pengangkatan anggota militer inilah dalam perkembangan selanjutnya merebut kekuasaan tersebut. Walaupun khalifah dipegang oleh Bani Abbas, di tengah mereka, khalifah bagaikan bonek yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah yang sesuai dengan politik mereka.
     Khalifah Dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada masa kekuasaan Bangsa Turki I, mulai khalifah ke-10 yaitu Khalifah Al-Mutawwakil tahun 232 H. hingga Khalifah ke-22 yaitu Al-Mustaqfi Billah (Abdullah Suni Qasim) pada tahun 334 H.
      Pada masa kekuasaan bangsa Turki II (Banu Saljuk), mulai dari khalifah ke-27, Muqtadie bin Muhammad tahun 467 H, hingga khalifah ke-37 Musta'shim bin Mustanshir tahun 656 H.
     c. Dominasi bangsa Persia
     Masa kekuasan bangsa Parsi (Banu Buyah) berjalan lebih dari 150 tahun. Pada masa ini, kekuasaan pusat di Baghdad dilucuti dan di berbagai daerah muncul negara-negara baru yang berkuasa dan membuat kemajuan dan perkembangan baru.
     Pada awal pemerintahan Bani Abbasiyah, keturunan Parsi bekerja sama dalam mengelola pemerintahan dan Dinasti Abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam berbagai bidang. Pada periode kedua, saat kekhalifahan Bani Abbasiyah sedang mengadakan pergantian khalifah, yaitu dari Khalifah Muttaqi (khalifah ke-22) kepada Khalifah Muthie' (khalifah ke-23) tahun 334 H., Banu Buyah (Parsi) berhasil merebut kekuasaan.
      Pada mulanya mereka berkhidmat kepada pembesar-pembesar dari para khalifah, sehingga banyak dari mereka yang menjadi panglima tentara, di antaranya menjadi panglima besar. Namun, setelah mereka memiliki kedudukan yang kuat, para khalifah Abbasiyah berada di bawah telunjuk mereka dan seluruh pemerintahan berada di tangan mereka.
      Khalifah Abbasiyah hanya tinggal namanya saja, hanya disebut dalam do'a-do'a di atas mimbar, bertanda tangan di dalam peraturan dan pengumuman resmi dan nama mereka ditulis atas mata uang dinar dan dirham.

D. Sebab-sebab Kehancuran Dinasti Abbasiyah
1. Faktor Intern
a.       Lemahnya semangat patriotisme negara, menyebabkan jiwa jihad yang diajarkan islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang, baik dari dalam maupun dari luar.
b.      Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung negara selama ini.
c.       Tidak percaya pada kekuatan sendiri. Dalam mengatasi berbagai pemberontakan, khalifah mengundang kekuatan asing. Akibatnya, kekuatan asing tersebut memanfaatkan kelemahan khalifah.
d.      Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yag tiada henti antara Abbasiyah dan Alawwiyah menyebabkan kekuatan umat islam menjadi lemah, bahkan hancur berkeping-keping.
Perang ideologi antara Syiah dari Fattimiyyah melawan Ahlussunah dari Abbasiyah, banyak menimbulkan korban. Aliran Qaramithah yang sangat ekterm dalam tindakan-tindakannya yang dapat menimbulkan bentrokan di masyarakat. Kelompok Hashshashin yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah yang berasal dari Thus di Parsi merupakan aliran Ismailiyah. Salah satu sekte Syiah adalah kelompok yang sangat dikenal kekejamannya, yang sering melakukan pembunuhan terhadap penguasa Bani Abbasiyah yang beraliran Sunni. Pada saat terakhir dari hayatnya Abbasiyah, tentara Tartar yang datang dari luar dibantu dari dalam dan dibukakan jalannya oleh golongan Awaliyin yang dipimpinoleh Al Qamiy.
e.       Kemerosotan ekonomi. Terjadi karena banyaknya biaya yang digunakan untuk anggaran tentara, banyaknya pemberontakan dan kebiasaan para penguasa untuk berfoya-foya,kehidupan para khalifah dan keluarganya serta pejabat-pejabat negara yang hidup mewah, jenis pengeluaran yang makin beragam, serta pejabat yang korupsi, dan semakin sempitnya wilayah kekuasaaan khalifah karena telah banyak provinsi yang telah memisahkan diri.
2. Faktor Ekstern
            Disintegrasi, akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada politik, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai melepaskan  diri dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah. Mereka bukan sekadar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan sumber daya manusia. Yang paling membahayakan adalah pemerintahan tandingan Fatimiyyah di Mesir walaupun pemerintahan lainnyapun cukup menjadi perhitungan para khalifah di baghdad. Pada akhirnya, pemerintahan-pemerintahan tandingan ini dapat ditaklukan atas bantuan Bani Saljuk atau Buyah.[14]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Dinasti Abbasiyah adalah pengubah peradaban dunia Islam setelah Dinasti Umayyah, yakni selama 5 abad, dari 750-1258M. Dinasti inipun berasal dari nama keluarga Bani Hasyim, yang seketurunan dengan Nabi Muhammad SAW. Pada zaman Abbasiyah, konsep kekhalifahan (pemerintahan) berkembang sebagai sistem politik. Pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sisial, ekonomi dan budaya.
            Dinasti ini mengalami kemajuan di berbagai bidang. Dan juga mengalami kemunduran yang disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern. Kehancuran dinasti ini juga mengalami kehancuran yang disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern.
B.     Saran
            Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Karenanya, saran dan kritikan yang sifatnya membangun, sangat diharapkan dari semua pihak.




     

DAFTAR PUSTAKA
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
H. Darsono, T.Tabrani. 2009. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Departemen Agama RI. 2000. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Departemen Agama RI.
Misbah, Ma’ruf., Ja’far Sanusi. 1984. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: CV Wicaksana.
Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Supriyadi. Dedy. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Wahid, N Abbas dan Suratno. 2009. Khazanah Sejarah Kebudayaan Islam. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Samsul, Munir. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah


[1] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 41.
[2]Wikipedia Bahasa Indonesia. “Kekhalifahan Abbasiyah”. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan-Abbasiyah yang dikutip pada 1 Okt 2017 19:35:40.

[3]  Badri yatim, op. cit., hlm. 49.
[4] Taqwa, op. cit., hlm. 6.
[5] Wikipedia Bahasa Indonesia. “Kekhalifahan Abbasiyah”. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan-Abbasiyah yang dikutip pada 1 Okt 2017 19:35:40.


[6] Taqwa, op. cit., hlm. 7.
[7] Taqwa, op. cit., hlm. 7.
[8] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 41.
[9] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 42.
[10] Dimodifikasi dari Philip K. Hitti, dari hlm. 332-416.
[11]  Sejarah Peradaban Islam, hlm. 130-135.
[12]Sejarah Negara. “Faktor Intern dan Ekstern Kemunduran Dinasati Abbasiyah”. [Online]. Tersedia: http://www.sejarah-negara.com/2015/08/faktor-intern-dan-ekstern-kemunduran-dinasti-abbasiyah.html. Dikutip pada 1 Okt 2017 20:01:55.
[13] Sejarah Negara. “Faktor Intern dan Ekstern Kemunduran Dinasati Abbasiyah”. [Online]. Tersedia: http://www.sejarah-negara.com/2015/08/faktor-intern-dan-ekstern-kemunduran-dinasti-abbasiyah.html. Dikutip pada 1 Okt 2017 20:01:55.

[14]  Sejarah Peradaban Islam, hlm. 141.