Kamis, 10 Januari 2019

Makalah Kemungkinan dan Keharusan Pendidikan (Dasar-Dasar Pendidikan)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
                Pendidikan merupakan aspek terpenting bagi manusia, karena dengan adanya pendidikan dan ikut serta dalam pendidikan, manusia dapat hidup dengan terarah pada tujuan hidupnya.
            Namun, pendidikan di Indonesia belum bisa bersaing dengan negara lain dalam arti pemerintah belum bisa memberikan sarana dan prasarana yang optimal bagi masyarakat Indonesia, baik pendidikan formal maupun nonformal. Disisi lain, masyarakat Indonesia belum sadar akan pentingnya pendidikan. Masih banyak masyarakat yang tidak peduli atau beranggapan bahwa pendidikan itu tidak dibutuhkan, karena pada akhirnya setelah selesai pendidikan akan mencari pekerjaan, secara tidak langsung masyarakat lebih cenderung peduli pada pekerjaan daripada pendidikan. Padahal, pendidikan merupakan bekal bagi kehidupan manusia baik untuk bidang sosial, profesi, dan lain-lain.
B. Rumusan Masalah
            Ditinjau dari latar belakang, maka rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Seperti apa kemungkinan pendidikan itu?
2.      Apakah pendidikan merupakan keharusan?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1.      Untuk mengetahui kemungkinan pendidikan.
2.      Untuk mengetahui tentang keharusan pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Kemungkinan Pendidikan
            Manusia disatu pihak telah mempunyai pembawaan sejak lahir dan berada dalam lingkungan tertentu dipihak lain, dalam proses perkembangan hidup berikutnya. Ki Hajar Dewantoro menyebut pembawaan sebagai dasar dan lingkungan sebagai ajar atau dalam bahasa Inggrisnya pembawaan dinamakan nature dan lingkungan disebut nurture.
            Kedua masalah ini merupakan suatu masalah yang telah lama diperbincangkan oleh para ahli pendidikan. Persoalannya berkisar apakah perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya, atau ditentukan oleh lingkungannya dan ataukah dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungannya. 
            Dalam menyelesaikan persoalan ini timbul teori-teori pendidikan sebagai berikut:
1. Teori Nativisme (pembawaan bakat sejak lahir)
            Menurut teori nativisme, anak yang baru lahir telah memiliki bakat, potensi dan sifat-sifat tertentu yang sangat menentukan terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut. Pendidikan lingkungan tidak berpengaruh apa-apa terhadap perkembangan anak tersebut.
2. Teori Emperisme (Pengalaman)
            Aliran ini berlawanan dengan aliran nativisme. Teori ini berpendapat bahwa faktor lingkungan, terutama lingkungan pendidikan sangat berpengaruh bahkan menentukan terhadap perkembangan manusia. Tokoh aliran ini ialah Jhon Locke (1632- 1704) bangsa inggris. Dia menyatakan bahwa manusia sejak lahir dengan jiwa kosong dan jiwa ini terisi oleh ide–ide atau pengertian, karena pengaruh luar melalui proses psikologis sensasi (gejala jiwa yang mempunyai hubungan dengan dunia luar tetapi tidak dapat meraihnya dan mengerti dengan sesungguhnya apa yang dihayati) dan refleksi (pengenalan intuitif yang dapat memberikan kesan pengetahuan yang lebih baik kepada manusia dari pada sensasi).
            Bertitik tolak dari konsep diatas Jhon Locke mengemukakan bahwa anak yang lahir ibarat kertas yang masih putih bersih dan pendidik serta pendidikan dapat membuat dan menentukan tulisan diatas kertas putih tadi menurut kehendaknya. Karena pendidik dan pendidikan ini dapat menentukan baik buruknya perkembangan seseorang.
3. Teori Konvergensi (Bertemu pada suatu titik atau penggabungan)
            Dalam pendidikan, konvergensi berarti bertemunya bakat dan pengaruh lingkungan sehingga apa yang terjadi pada anak harus dipandang sebagai hasil dari kedua faktor tersebut. Teori ini dipelopori oleh William stern (1871 – 1938) seorang filsuf dan psikolog Jerman.
            Di sini dapat dipahami bahwa kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila dibina oleh suatu Pendidikan (Pengalaman) yang baik serta ditopang oleh bakat yang merupakan pembawaan lahir.
            Jadi, teori konvergensi sebagai aliran yang menggabungkan atau memadukan faktor pembawaan dan faktor lingkungan yang menentukan perkembangan manusia.
B. Keharusan Pendidikan
            Pendidikan merupakan suatu keharusan, karena pada hakikatnya manusia dilahirkan dengan keadaan tidak berdaya karena ia membutuhkan bantuan orang lain belum bisa melakukan segala sesuatunya sendiri.
            MJ. Langeveld mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah:
1. Animal educabile, artinya manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang dapat dididik.
2. Animal educandum, artinya manusia pada hakikatnya adalah manusia yang harus dididik.
3. Homo educandus, artinya manusia pada hakikatnya makhluk yang dapat dan harus mendidik, juga dapat dan harus dididik.
            Kembali pada persoalan pokok dari uraian ini, mengapa pendidikan itu merupakan keharusan pada manusia? Jawaban terhadap persoalan ini dapat ditinjau dari dua segi:
a). Ditinjau dari segi anak sebagai anak didik
            Keharusan pendidikan diberikan kepada anak didik sebagai anak didik berdasarkan suatu kenyataan bahwa:
1) Anak mempunyai insting.
            Hal tersebut merupakan pembawaan sejak lahir dan sebagai modal pokok kemampuan manusia sehingga manusia dapat mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Insting ini perlu dikembangkan agar manusia dapat membedakan dirinya dengan dunia binatang.
2). Manusia sejak lahir mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.
            Anak dilahirkan masih harus memerlukan pertolongan dan bantuan dari orang lain. Pertumbuhan dan perkembangan ini terjadi pada segi-segi fisik, psikis, sosial dan keagamaan.
(a) Fisik perlu dikembangkan untuk menuju pertumbuhan jasmani yang dewasa dan sehat.
(b) Psikis memerlukan bantuan agar tercapai manusia yang dewasa, manusia yang berdiri sendiri dan bertanggung jawab dalam kehidupannya.
(c) Rasa sosial perlu ditumbuhkan agar manusia dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna dan mengerti hak dan kewajiban sebagai individu dalam masyarakat.
(d) Rasa keagamaan manusia perlu ditingkatkan agar manusia dapat taqwa dan beribadah kepada Tuhannya, untuk kesejahteraan kehidupan akhiratnya.
            Singkat kata segi-segi kehidupan di atas masih sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal, sehingga tercapai manusia dewasa lahir batin. Sedangkan pendidikan berfungsi untuk mengembangkan aspek-aspek tadi.
3) Manusia yakni anak didik tidak hanya hidup sebagai individu yang mempunyai kebebasan atas hak-haknya, tetapi manusia hidup dalam ikatan kelompok sesama manusia yakni kehidupan bermasyarakat.
            Dalam kehidupan, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu dimana manusia satu dengan manusia lainnya harus bekerja sama, tolong menolong dan didik mendidik untuk kesejahteraan sosial. Kesejahteraan sosial ini dapat dicapai jika dalam masyarakat tadi terjadi proses pendidikan. Karena itu suatu keharusan bagi manusia mendapatkan pendidikan, agar tercipta masyarakat yang maju dan modern serta dapat menunjukkan produktivitas dalam kehidupannya.
b) Ditinjau dari segi pendidik sebagai orang dewasa
            Orang dewasa mempunyai keharusan untuk melaksanakan usaha-usaha yang bersifat pendidikan terhadap orang yang belum dewasa. Dasar pemikiran ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Manusia sebagai makhluk sosial
            Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Ia tidak akan menjadi manusia seandainya tidak hidup bersama dengan manusia lainnya. Lain halnya dengan hewan, di mana pun hewan dibesarkan, tetap akan memiliki perilaku hewan.        Artinya bahwa makhluk harus hidup di masyarakat dan harus bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia saling bergaul, saling berinteraksi dan terikat satu sama lainnya yang mengikuti suatu system adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu. Keterikatan manusia sebagai warga masyarakat yang menyebabkan manusia saling tolong menolong, hidup bersama dan didik mendidik untuk mencapai kesejahteraan dan kecerdasan anggotanya. Dengan demikian sifat sosial dari orang dewasa yang mengharuskan manusia melakukan kegiatan-kegiatan yang bernilai pendidikan.
2) Orang dewasa sebagai makhluk yang berbudaya
            Artinya manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai-nilai kebudayaan yang tercipta dalam cipta, karsa, dan rasa. Kebudayaan yang diciptakan sebelumnya memerlukan penerusan, pengawetan dan pengembangan bagi generasi berikutnya. Disinilah mengandung pemahaman, bahwasanya manusia mendidik manusia lainnya, agar kebudayaan tadi dapat dipertahankan dalam kehidupan selanjutnya.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Manusia sejak lahir sangat membutuhkan bantuan orang lain, khususnya kedua orang tuanya. Dengan keterbatasan kemampuan anak menyebabkan ia perlu mendapat pendidikan. Keterbatasan anak dikarenakan, anak lahir dalam keadaan tidak berdaya, dan ia tidak langsung dewasa.
  Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Karena, dibelahan bumi manapun yang terdapat adanya kehidupan pasti akan terjadi proses pendidikan, sehingga pendidikan itu sendiri tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita.
                Pendidikan merupakan suatu keharusan, karena pada hakikatnya manusia dilahirkan dengan keadaan tidak berdaya karena ia membutuhkan bantuan orang lain belum bisa melakukan segala sesuatunya sendiri.
MJ. Langeveld mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah:
1. Animal educabile, artinya manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk yang dapat dididik.
2. Animal educandum, artinya manusia pada hakikatnya adalah manusia yang harus dididik.
3. Homo educandus, artinya manusia pada hakikatnya makhluk yang dapat dan harus mendidik, juga dapat dan harus dididik.
B. Saran
Semoga dengan tersusunnya makalah ini akan dapat memberikan gambaran dan menambah wawasan kita mengenai Kemungkinan pendidikan. Dari pembahasan materi ini kami mengalami beberapa kendala dalam penyusunan makalah ini. Maka dari itu pasti ada beberapa kesalahan oleh kami atau kekurangan. Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar