BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan aspek terpenting bagi manusia, karena dengan
adanya pendidikan dan ikut serta dalam pendidikan, manusia dapat hidup dengan
terarah pada tujuan hidupnya.
Namun, pendidikan di Indonesia belum
bisa bersaing dengan negara lain dalam arti pemerintah belum bisa memberikan
sarana dan prasarana yang optimal bagi masyarakat Indonesia, baik pendidikan
formal maupun nonformal. Disisi lain, masyarakat Indonesia belum sadar akan
pentingnya pendidikan. Masih banyak masyarakat yang tidak peduli atau
beranggapan bahwa pendidikan itu tidak dibutuhkan, karena pada akhirnya setelah
selesai pendidikan akan mencari pekerjaan, secara tidak langsung masyarakat
lebih cenderung peduli pada pekerjaan daripada pendidikan. Padahal, pendidikan
merupakan bekal bagi kehidupan manusia baik untuk bidang sosial, profesi, dan
lain-lain.
B. Rumusan Masalah
Ditinjau
dari latar belakang, maka rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.
Seperti
apa kemungkinan pendidikan itu?
2.
Apakah
pendidikan merupakan keharusan?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1.
Untuk
mengetahui kemungkinan pendidikan.
2.
Untuk
mengetahui tentang keharusan pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kemungkinan Pendidikan
Manusia
disatu pihak telah mempunyai pembawaan sejak lahir dan berada dalam lingkungan
tertentu dipihak lain, dalam proses perkembangan hidup berikutnya. Ki Hajar
Dewantoro menyebut pembawaan sebagai dasar dan lingkungan sebagai ajar atau
dalam bahasa Inggrisnya pembawaan dinamakan nature dan lingkungan disebut
nurture.
Kedua
masalah ini merupakan suatu masalah yang telah lama diperbincangkan oleh para
ahli pendidikan. Persoalannya berkisar apakah perkembangan manusia ditentukan
oleh pembawaannya, atau ditentukan oleh lingkungannya dan ataukah dipengaruhi
oleh faktor pembawaan dan lingkungannya.
Dalam
menyelesaikan persoalan ini timbul teori-teori pendidikan sebagai berikut:
1. Teori Nativisme (pembawaan bakat sejak
lahir)
Menurut
teori nativisme, anak yang baru lahir telah memiliki bakat, potensi dan
sifat-sifat tertentu yang sangat menentukan terhadap perkembangan dan
pertumbuhan anak tersebut. Pendidikan lingkungan tidak berpengaruh apa-apa
terhadap perkembangan anak tersebut.
2. Teori Emperisme (Pengalaman)
Aliran
ini berlawanan dengan aliran nativisme. Teori ini berpendapat bahwa faktor
lingkungan, terutama lingkungan pendidikan sangat berpengaruh bahkan menentukan
terhadap perkembangan manusia. Tokoh aliran ini ialah Jhon Locke (1632- 1704)
bangsa inggris. Dia menyatakan bahwa manusia sejak lahir dengan jiwa kosong dan
jiwa ini terisi oleh ide–ide atau pengertian, karena pengaruh luar melalui
proses psikologis sensasi (gejala jiwa yang mempunyai hubungan dengan dunia
luar tetapi tidak dapat meraihnya dan mengerti dengan sesungguhnya apa yang
dihayati) dan refleksi (pengenalan intuitif yang dapat memberikan kesan pengetahuan
yang lebih baik kepada manusia dari pada sensasi).
Bertitik
tolak dari konsep diatas Jhon Locke mengemukakan bahwa anak yang lahir ibarat
kertas yang masih putih bersih dan pendidik serta pendidikan dapat membuat dan
menentukan tulisan diatas kertas putih tadi menurut kehendaknya. Karena
pendidik dan pendidikan ini dapat menentukan baik buruknya perkembangan
seseorang.
3. Teori Konvergensi (Bertemu pada suatu titik
atau penggabungan)
Dalam
pendidikan, konvergensi berarti bertemunya bakat dan pengaruh lingkungan
sehingga apa yang terjadi pada anak harus dipandang sebagai hasil dari kedua
faktor tersebut. Teori ini dipelopori oleh William stern (1871 – 1938) seorang
filsuf dan psikolog Jerman.
Di
sini dapat dipahami bahwa kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik
apabila dibina oleh suatu Pendidikan (Pengalaman) yang baik serta ditopang oleh
bakat yang merupakan pembawaan lahir.
Jadi,
teori konvergensi sebagai aliran yang menggabungkan atau memadukan faktor
pembawaan dan faktor lingkungan yang menentukan perkembangan manusia.
B. Keharusan Pendidikan
Pendidikan
merupakan suatu keharusan, karena pada hakikatnya manusia dilahirkan dengan
keadaan tidak berdaya karena ia membutuhkan bantuan orang lain belum bisa
melakukan segala sesuatunya sendiri.
MJ.
Langeveld mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah:
1. Animal educabile, artinya manusia itu pada
hakikatnya adalah makhluk yang dapat dididik.
2. Animal educandum, artinya manusia pada
hakikatnya adalah manusia yang harus dididik.
3. Homo educandus, artinya manusia pada
hakikatnya makhluk yang dapat dan harus mendidik, juga dapat dan harus dididik.
Kembali
pada persoalan pokok dari uraian ini, mengapa pendidikan itu merupakan
keharusan pada manusia? Jawaban terhadap persoalan ini dapat ditinjau dari dua
segi:
a). Ditinjau dari segi anak sebagai anak didik
Keharusan
pendidikan diberikan kepada anak didik sebagai anak didik berdasarkan suatu
kenyataan bahwa:
1) Anak mempunyai insting.
Hal
tersebut merupakan pembawaan sejak lahir dan sebagai modal pokok kemampuan
manusia sehingga manusia dapat mempertahankan dan mengembangkan hidupnya.
Insting ini perlu dikembangkan agar manusia dapat membedakan dirinya dengan
dunia binatang.
2). Manusia sejak lahir mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan.
Anak
dilahirkan masih harus memerlukan pertolongan dan bantuan dari orang lain. Pertumbuhan
dan perkembangan ini terjadi pada segi-segi fisik, psikis, sosial dan
keagamaan.
(a) Fisik perlu dikembangkan untuk menuju
pertumbuhan jasmani yang dewasa dan sehat.
(b) Psikis memerlukan bantuan agar tercapai
manusia yang dewasa, manusia yang berdiri sendiri dan bertanggung jawab dalam
kehidupannya.
(c) Rasa sosial perlu ditumbuhkan agar manusia
dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna dan mengerti hak dan kewajiban
sebagai individu dalam masyarakat.
(d) Rasa keagamaan manusia perlu ditingkatkan
agar manusia dapat taqwa dan beribadah kepada Tuhannya, untuk kesejahteraan kehidupan
akhiratnya.
Singkat
kata segi-segi kehidupan di atas masih sangat membutuhkan pertolongan dari
orang lain sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal, sehingga
tercapai manusia dewasa lahir batin. Sedangkan pendidikan berfungsi untuk
mengembangkan aspek-aspek tadi.
3) Manusia yakni anak didik tidak hanya hidup
sebagai individu yang mempunyai kebebasan atas hak-haknya, tetapi manusia hidup
dalam ikatan kelompok sesama manusia yakni kehidupan bermasyarakat.
Dalam
kehidupan, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu dimana manusia satu
dengan manusia lainnya harus bekerja sama, tolong menolong dan didik mendidik
untuk kesejahteraan sosial. Kesejahteraan sosial ini dapat dicapai jika dalam
masyarakat tadi terjadi proses pendidikan. Karena itu suatu keharusan bagi
manusia mendapatkan pendidikan, agar tercipta masyarakat yang maju dan modern
serta dapat menunjukkan produktivitas dalam kehidupannya.
b) Ditinjau dari segi pendidik sebagai orang
dewasa
Orang
dewasa mempunyai keharusan untuk melaksanakan usaha-usaha yang bersifat
pendidikan terhadap orang yang belum dewasa. Dasar pemikiran ini didasarkan
pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Manusia sebagai makhluk sosial
Manusia
pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Ia tidak akan menjadi manusia seandainya
tidak hidup bersama dengan manusia lainnya. Lain halnya dengan hewan, di mana
pun hewan dibesarkan, tetap akan memiliki perilaku hewan. Artinya bahwa makhluk harus hidup di
masyarakat dan harus bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia
saling bergaul, saling berinteraksi dan terikat satu sama lainnya yang
mengikuti suatu system adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu.
Keterikatan manusia sebagai warga masyarakat yang menyebabkan manusia saling
tolong menolong, hidup bersama dan didik mendidik untuk mencapai kesejahteraan
dan kecerdasan anggotanya. Dengan demikian sifat sosial dari orang dewasa yang
mengharuskan manusia melakukan kegiatan-kegiatan yang bernilai pendidikan.
2) Orang dewasa sebagai makhluk yang berbudaya
Artinya
manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai-nilai kebudayaan yang
tercipta dalam cipta, karsa, dan rasa. Kebudayaan yang diciptakan sebelumnya
memerlukan penerusan, pengawetan dan pengembangan bagi generasi berikutnya. Disinilah
mengandung pemahaman, bahwasanya manusia mendidik manusia lainnya, agar
kebudayaan tadi dapat dipertahankan dalam kehidupan selanjutnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia
sejak lahir sangat membutuhkan bantuan orang lain, khususnya kedua orang tuanya.
Dengan keterbatasan kemampuan anak menyebabkan ia perlu mendapat pendidikan.
Keterbatasan anak dikarenakan, anak lahir dalam keadaan tidak berdaya, dan ia
tidak langsung dewasa.
Pendidikan merupakan suatu
kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Karena, dibelahan bumi manapun yang
terdapat adanya kehidupan pasti akan terjadi proses pendidikan, sehingga
pendidikan itu sendiri tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita.
Pendidikan merupakan
suatu keharusan, karena pada hakikatnya manusia dilahirkan dengan keadaan tidak
berdaya karena ia membutuhkan bantuan orang lain belum bisa melakukan segala
sesuatunya sendiri.
MJ. Langeveld mengemukakan bahwa manusia pada
hakikatnya adalah:
1. Animal educabile, artinya manusia itu pada
hakikatnya adalah makhluk yang dapat dididik.
2. Animal educandum, artinya manusia pada
hakikatnya adalah manusia yang harus dididik.
3. Homo educandus, artinya manusia pada
hakikatnya makhluk yang dapat dan harus mendidik, juga dapat dan harus dididik.
B. Saran
Semoga dengan tersusunnya makalah ini
akan dapat memberikan gambaran dan menambah wawasan kita mengenai Kemungkinan
pendidikan. Dari pembahasan materi ini kami mengalami beberapa kendala dalam
penyusunan makalah ini. Maka dari itu pasti ada beberapa kesalahan oleh kami
atau kekurangan. Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran yang membangun
dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar