PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Abbasiyah berasal dari kata Al-Abbas, yaitu salah satu keturunan
dari Bani Hasyim yang termasuk paman dari Nabi Muhaammad SAW. Bani Hasyim
merupakan mitra politik Bani Umayyah sejak zaman jahiliyah sampai kelahiran
islam, juga pada saat Bani Umayyah berkuasa.
Dinasti Abbasiyah adalah pengubah
peradaban dunia Islam setelah Dinasti Umayyah, yakni selama 5 abad, dari
750-1258M. Pada zaman Abbasiyah, konsep kekhalifahan (pemerintahan) berkembang
sebagai sistem politik. Pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai
dengan perubahan politik, sisial, ekonomi dan budaya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana awal
terbentuknya Dinasti Abbasiyah?
1.2.2
Faktor apa saja
yang menyebabkan kemajuan Dinasti Abbasiyah?
1.2.3
Faktor apa saja
yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah?
1.2.4
Faktor apa saja
yang menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1.3.1
Untuk
mengetahui terbentuknya Dinasti Abbasiyah
1.3.2
Untuk
mengetahui faktor yang menyebabkan kemajuan Dinasti Abbasiyah?
1.3.3
Untuk
mengetahui faktor yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah?
1.3.4
Untuk
mengetahui faktor yang menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Berdirinya Dinastii Abbasiyah
1. Latar Belakang Terbentuknya Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan daulah Abbasiyah yang didirikan pada tahun 132/750M.
Merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Umayyah. Meskipun demikian,
terdapat beberapa perbedaan antara kekuasaan dinasti umayyah dengan kekuasaan
dinasti Abbasiyah, yaitu :
a.
Dinasti Umayyah
sangat bersifat Arab Oriented, artinya dalam segala hal dan bidang para
pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni. Begitupun cara peradaban
yang dihasilkan pada masa kekuasaan dinasti ini.
b. Dinasti Abbasiyah, disamping bercorak arab murni, juga telah
terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, romawi timur, Mesir,
dan sebagainya.[1]
Abbasiyah berasal dari kata Al-Abbas, yaitu salah satu keturunan
dari Bani Hasyim yang termasuk paman dari Nabi Muhaammad SAW. Bani Hasyim merupakan
mitra politik Bani Umayyah sejak zaman jahiliyah sampai kelahiran islam, juga
pada saat Bani Umayyah berkuasa.
Kekuasaan
dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan, melanjutkan
kekuasaan Bani Umayyah, dinamakan khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan
penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. Dinasti
Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Suffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah
ibn al-Abbas. Kekuasaanya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari
tahun 132 H / 750 M s/d 656 H / 1258 M. selama dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial, dan budaya.[2]
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan
biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :
a. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut
periode pengaruh Persia pertama.
b. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut
masa pengaruh Turki pertama.
c. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa
kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini
disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
d. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa
kekuasaan dinasni Bani Saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode
ini disebut juga masa pengaruh Turki kedua.
e. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa
khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaanya hanya efektif
disekitar kota Baghdad.[3]
Langkah-langkah
Bani Abbas untuk mendirikan daulah Abbasiyah
1.
Membentuk
gerakan bawah tanah.
Tokoh
yang berperan :
-
Muhammad
Al-Abbas
-
Ibrohim Al-Imam
-
Abu Muslim
Khurasani
2.
Menerapkan
politik bersahabat, artinya keturunan Abbas tidak menunjukan sikap permusuhan
dengan pemerintahan Bani Umayyah.
3.
Dalam
gerakannya menanggalkan nama Bani Abbas, tetapi Bani Hasyim. Tujuan dari
penggunaan nama tesebut adalah agar mendapat dukungan dari kelompok pendukung
Ali bin Abi Thalib, karena berasal dari Bani Hasyim.
4.
Menetapkan
wilayah Khurasan sebagai pusat gerakan politik Bani Abbas di bawah pimpinan Abu
Muslim Al-Khurasani[4]
Pada
mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah,
dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga
stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara
ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat
bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun
762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di
tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu
kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban
pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan
yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan
mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada,
Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak,
berasal dari Balkh, Persia. Dia
juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian
negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad
ibn Abdurrahman sebagai
hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa
dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu
hanya sekadar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos
ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga
administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos
bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang
sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di
daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut
benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya
melintasi pegunungan
Taurus dan mendekati selat
Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga
berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut
Kaspia, Turki di bagian lain Oxus, dan India.[5]
Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah
kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)
|
2. Silsilah Bani Abbasiyah
Dalam silsilah Bani Abbasiyah terdapat 3 keluarga besar yang ingin
merebut kukuasaan[6].
Keluarga terbut adalah :
a.
Keluarga Ali
bin Abi Thalib (keluarga Syi’ah)
b.
Keluarga
Umayyah
c.
Keluarga Abbas
Para tokoh yang
mempunyai peran penting dalam proses berdirinya Dinasti Abbasiyah yaitu :
a.
Muhammad bin
Ali
Muhammad bin Ali
adalah tokoh utama dalam peendirian Dinasti Abbasiyah. Ia ini berhasil menghimpun
kekuatan dan memiliki pengikut-pengikut yang setia, terutama di daerah
Khurasan.
b.
Abdulloh bin
Muhammad
Abdulloh bin
Muhammad bergellar Abu Abbas As-Safah. Ia mmeneruskan usaha ayahnya dalam
gerakan dakwah setelah berhasil menumbangkah Khalifah Marwan bin Muhammad
sebagai khalifah Bani Umayyah terakhir (132H/750M). Abu Abbas As-Safah adalah
Khalifah pertama dan di anggap sebagai pendiri kekhalifahan Bani Abbasiyah
(132-136H/750-754M).
c.
Abu Muslim
Al-Khurasani
Abu Muslim
Al-Khurasani merupakan tokoh penting gerakan Dinasti Abbasiyah. Setelah
kelompok Abbasiyah cukup kuat kemudian menyerang Bani Umayyah, di bawah komandi
Abu Muslim Al-Khurasani sendiri. Gerakan ini berakhir setelah Marwan bin
Muhammad dari Bani Umayyah tumbang pada tahun 132H/750M.
Gerakan Abu Muslim
Al-Khurasani di mulai dari daerahnya sendiri. Gubernur Khurasan ketika itu
dijabat oleh Nasr bin Sayyar yang berasal dari suku arab Qaisy. Abu Muslim
Al-Khurasani bersekutu dengan suku Srab Yamani di Khurasan yang dipimpin oleh
Al-Kirmani untuk meruntuhkan Gubernur Nasr bin Sayyar. Akhirnya Abu Muslim
Al-Khurasani berhasil menduduki Kota Merv dan Nasabur. Dengan demikian, sejarah
Abu Muslim Al-Khurasani tak bisa lepas dari sejarah berdirinya Dinasti
Abbasiyah.[7]
3. Perkembangan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
Pada masa
pemerintahan Dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan islam semakin bertambah[8].
Baghdad sebagai pusat pemerintahan mengawasi pusat-pusat pemerintahan daerah
yang berbeda di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Perluasan kekuasaan dan pengaruh
islam bergerak ke wilayah timur asia tengah, dari perbatasan India hingga ke
China. Ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mahdi
(158-169H/775-785M).
Serangan yang
dilancarkan oleh penguasa Byzantium dapat ditangkis oleh pasukan islam pada
masa pemerintahan khalifah Al-Mansur 138H. Kemudian pada masa khalifah Al-Mahdi
165H. Umat islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene
menyerah dan berjanji membayar upeti. Pada masa Dinasti Abbasiyah ini, wilayah
kekuasaan islam amat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani
Umayyah, antara lain : Hijaz,Yaman Utara dan Yaman Selatan, Oman, Kuwait, Iran
(Persia), Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko,
Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan.
Daerah-daerah tersebut
memang belum sepenuhnya berada di wilayah Bani Umayyah. Namun, di masa
kekuasaan Bani Abbasiyah, perluasan daerah dan penyiaran islam semakin
berkembang, sehingga meliputi daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia, dan daerah
sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian barat
India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah barat.
Seluruh wilayah
yang telah masuk ke dalam wilayah kekuasaan islam tersebut, tidak seluruhnya
dibawah kekuasaan dinasti Abbasiyah, seperti Andalusia, Afrika Utara dan Mesir,
Syam, serta India dan sebagainya.
Secara umum dapat
dikatakan, bahwa pemerintahan dinasti Abbasiyah mampu mengembangkan dan
memajukan peradaban islam, sehingga dinasti ini mencapai puncak kejayaannya.
Karena para penguasanya banyak memberikan dorongan kepada para ilmuan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dalam segala bidang kehidupan, dan tidak hanya
terfokus pada satu bidang saja[9].
B. Kemajuan Dinasti Abbasiyah
Masa ini adalah masa keemasan atau masa kejayaan umat Islam sebagai
pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua
aspek kehidupan. Rincian berbagai kemajuan tersebut, dapat dilihat dari temuan
Philip K. Hitti[10]
sebagai berikut :
1.
Biro-biro
Pemerintahan Abbasiyah
Dalam menjalankan
sistem teknis pemerintahan, Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawas (dewan
az-zimani) yang pertama kali diperkenalkan oleh Al-Mahdi; dewan
korespondensi atau kantor arsip (dewan at-tawqi) yang menangani semua
surat resmi, dokumen politik serta instruksi dan ketetapan khalifah; dewan
penyelidik keluhan; departemen kepolisian dan pos. Dewan penyelidik keluhan (dewan
an nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding, atau
pengadilan tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru
pada departemen administratif dalam politik. Cikal bakal dewan ini dapat
dilacak pada masa Dinasti Umayyah, karena Al-Mawardi meriwayatkan bahwa Abd
Al-Malik adalah khalifah pertama yang menyediakan satu hari khusus untuk
mendengar secara langsung permohonan dan keluhan rakyatnya. Umar II meneruskan
praktik tersebut. Praktik itu kemudian diperkenalkan oleh Al-Mahdi kedalam
pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Penggantinya, Al-Hadi, Harun, Al-Ma’mun, dan
khalifah selanjutnya menerima keluhan itu dalam sebuah dengar publik;
Al-Muhtadi (869-870) adalah khalifah terakhir yang memelihara kebiasaan tersebut.
Raja Normandia, Roger II, (1130-1154) memperkenalkan lembaga tersebut ke
Sisilia, yang kemudian mengakar di daratan Eropa.
2.
Sistem Militer
Sistem militer
teroganisasi dengan baik, berdisiplin tinggi, serta mendapat pelatihan dan
pengajaran secara reguler. Paukan pengawal khalifah (hams) mungkin
merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masiing mengepalai sekelompok
pasukan. Selain mereka, ada juga pasukan bayaran dan sukarelawan, serta
sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik. Pasukan tetap (jund) yang
bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berkala
oleh pemerintah). Unit pasukan lainnya disebut mutha-thawi’ah
(sukarelawan), yang hanya menerima gaji ketika bertugas. Kelompok sukarelawan
ini, direkrut dari orang baduy, para petani, dan orang kota. Pasukan pengawal
istana memperoleh bayaran lebih tinggi, bersenjata lengkap, dan berseragam.
Pada masa-masa awal pemerintahan khalifah Dinasti Abbasiyah, rata-rata gaji
pasukan infanteri, disamping gaji dan santunan rutin sekitar 960 dirham
pertahun, pasukan kavaleri menerima 2x lipat dari itu.
3.
Wilayah
pemerintahan
Pembagian wilayah
kerajaan Umayyah ke dalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur (tunggal
amir atau ‘amir) sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan[11]
bizantium dan persia. Pembagian ini tidak mengalami perubahan berarti pada masa
Dinasti Abbasiyah. Provinsi Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan dari masa ke
masa, dan klasifikasi politik juga tidak selalu terkait dengan klasifikasi
geografis, seperti yang terekam dalam karya Al-Ishthakhri, Ibn Hawqal, Ibn
Al-Faqih, dan karya-karya sejenis. Berikut ini merupakan provinsi-provinsi
utama pada masa awal kekhalifahan Baghdad :
a.
Afrika di
sebelah Barat Gurun Libya bersama dengan Sisilia
b.
Mesir
c.
Suriah dan
Palestina yang terkadang dipisahkan
d.
Hijaz dan
Yamamah (Arab Tengah)
e.
Yaman dan Arab
Selatan
f.
Bahrain dan
Oman dengan Bashran dan Irak sebagai Ibu Kotanya
g.
Sawad atau Irak
(Mesopotamia Bawah) dengan kota utamanya setelah Baghdad, yaitu Kuffah dan Wash
h.
Jazirah (yaitu
kawasan Assyria Kuno, bukan semenanjung Arab), dengan Ibu Kota Moshul
i.
Azerbaijan,
dengan kota-kota besarnya, seperti Ardabil, Tibriz, dan Maraghah
j.
Jibal
(perbukitan, media kuno), kemudian dengan Irak Ajami (Iraknya orang Persia),
dengan Kota utamanya adalah Ramadhan.
4.
Perkembangan
bidang pertanian
Bidang pertanian
maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat
pemerintahannya, berada didaerah yang sangat subur, di tepian sungai yang
dikenal dengan nama Sawad. Pertanian merupakan sumber utama pemasukan negara
dan pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli, yang
statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru. Lahan-lahan pertanian
yang terlatar, dan desa-desa yang hancur diberbagai wilayah kerajaan diperbaiki
dan dibangun kembali secara bertahap. Di daerah rendah di lembah Tigris-Efrat,
yang merupakan daerah terkaya setelah Mesir, dan dipandang sebagai surga.
Tanaman asli Irak
adalah gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami. Daerah yang sangat subur
berada di bantaran tepian sungai ke selatan Sawad, yang menumbuhkan berbagai
jenis buah dan sayuran yang tumbuh di daerah panas maupun dingin. Kacanng, jeruk,
terong, tebu, dan beragam bunga, seperti bunga mawar, dan violet juga tumbuh
subur.
5.
Islamisasi
Masyarakat
Sebanyak 5000
orang kristen Banu Tanukh didekat Allepo mengikuti pemerintah khalifah Al-Mahdi
untuk masuk islam. Proses konfersi secara normal berjalan lebih gradual, damai,
dan bersifat pasti. Kebanyakan konfersi yang dilakukan oleh penduduk taklukan
didorong oleh motif kepentingan individu, agar terhindar dari pajak dan
sejumlah aturan lain yang membatasi, agar mendapat prestise sosial dan pengaruh
politik, serta menikmati kebebasan dan keamanan yang lebih besar. Penduduk
Persia baru beralih ke agama islam pada abad ke-3 setelah wilayah itu di kuasai
islam. Sebelumnya mereka menganut Zoroaster.
C. Faktor Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Berakhirnya kekuasaan dinasti Saljuk atas Baghdad atau
khalifah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini,
khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan atau dinasti tertentu,
walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya yang cukup besar.
Namun yang banyak adalah dinasti kecil. Di samping kelemahan khalifah, banyak
faktor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor
tersebut saling berkaitan satu sama lain.
1. Faktor
dari dalam (intern)[12] penyebab mundurnya dinasti Abbasiyah adalah sebagai
berikut :
a. Kemewahan hidup di kalangan penguasa
Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan
besar yang diraih Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para
penguasa untuk hidup serba mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah
cenderung ingin lebih mewah daripada pendahulunya. Kondisi ini berpeluang
kepada tentara profesional asal Turki untuk mengambil alih kendali
pemerintahan.
b. Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abasiyah
Perebutan kekuasaan keluarga Bani Abasiyah dimulai
sejak masa Al-Ma'mun dengan Al-Amin. Ditambah dengan masuknya unsur Turki dan
Persia. Setelah Al-Mutawakkil wafat, pergantian khalifah terjadi secara tidak
wajar. Dari kedua belas khalifah pada periode kedua Dinasti Abbasiyah, hanya
empat orang khalifah yang wafat dengan wajar. Selebihnya, para khalifah wafat
karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa.
c. Konflik keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah
Ali yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat, yaitu : pengikut
Muawiyah, Syi'ah, dan Khawarij. Ketiga kelompok tersebut senantiasa berebut
pengaruh. Yang paling berpengaruh pada masa kekhalifahan Muawiyah maupun
Abbasiyah adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi'ah. Walaupun pada masa-masa
tertentu antara kedua kelompok tersebut saling mendukung. Misalnya pada masa
pemerintahan Buwaihi, antara kelompok yang tak pernah ada satu kesepakatan.
a. Banyaknya
pemberontakan
Banyaknya
daerah yang dikuasai oleh khalifah, akibat kebijakan yang lebih menekankan pada
pembinaan peradaban dan kebudayaan islam, secara real, daerah-daerah itu berada
di bawah kekuasaan gubernur-gubernur yang bersangkutan. Akibatnya,
provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman penguasa
Bani Abbas.
Adapun cara mereka melepaskan diri dari kekuasan
Baghdad dengan dua cara, yaitu :
Pertama : seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan
dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti Daulah Umayah di Spanyol dan
Indrisiyah di Maroko.
Kedua :
seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah, kedudukannya semakin
bertambah kuat. Kemudian melepaskan diri, seperti daulat Aglabiyah di Tunisia
dan Thahiriyah di Kurasan.
b. Dominsai
bangsa Turki
Sejak abad
kesembilan, kekuatan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sebagai
gantinya, para penguasa Abbasiyah memperkerjakan orang-orang profesional di
bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki. Kemudian mengangkatnya menjadi
panglima-panglima.
Pengangkatan
anggota militer inilah dalam perkembangan selanjutnya merebut kekuasaan
tersebut. Walaupun khalifah dipegang oleh Bani Abbas, di tengah mereka,
khalifah bagaikan bonek yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, merekalah yang
memilih dan menjatuhkan khalifah yang sesuai dengan politik mereka.
Khalifah
Dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada masa kekuasaan Bangsa Turki I, mulai
khalifah ke-10 yaitu Khalifah Al-Mutawwakil tahun 232 H. hingga Khalifah ke-22
yaitu Al-Mustaqfi Billah (Abdullah Suni Qasim) pada tahun 334 H.
Pada masa
kekuasaan bangsa Turki II (Banu Saljuk), mulai dari khalifah ke-27, Muqtadie
bin Muhammad tahun 467 H, hingga khalifah ke-37 Musta'shim bin Mustanshir tahun
656 H.
c. Dominasi
bangsa Persia
Masa
kekuasan bangsa Parsi (Banu Buyah) berjalan lebih dari 150 tahun. Pada masa
ini, kekuasaan pusat di Baghdad dilucuti dan di berbagai daerah muncul negara-negara
baru yang berkuasa dan membuat kemajuan dan perkembangan baru.
Pada awal
pemerintahan Bani Abbasiyah, keturunan Parsi bekerja sama dalam mengelola
pemerintahan dan Dinasti Abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam
berbagai bidang. Pada periode kedua, saat kekhalifahan Bani Abbasiyah sedang
mengadakan pergantian khalifah, yaitu dari Khalifah Muttaqi (khalifah ke-22)
kepada Khalifah Muthie' (khalifah ke-23) tahun 334 H., Banu Buyah (Parsi)
berhasil merebut kekuasaan.
Pada mulanya
mereka berkhidmat kepada pembesar-pembesar dari para khalifah, sehingga banyak
dari mereka yang menjadi panglima tentara, di antaranya menjadi panglima besar.
Namun, setelah mereka memiliki kedudukan yang kuat, para khalifah Abbasiyah
berada di bawah telunjuk mereka dan seluruh pemerintahan berada di tangan
mereka.
Khalifah
Abbasiyah hanya tinggal namanya saja, hanya disebut dalam do'a-do'a di atas
mimbar, bertanda tangan di dalam peraturan dan pengumuman resmi dan nama mereka
ditulis atas mata uang dinar dan dirham.
D. Sebab-sebab Kehancuran Dinasti Abbasiyah
1. Faktor Intern
a. Lemahnya semangat patriotisme negara, menyebabkan jiwa
jihad yang diajarkan islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang
datang, baik dari dalam maupun dari luar.
b. Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang
dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat
baik yang mendukung negara selama ini.
c. Tidak percaya pada kekuatan sendiri. Dalam mengatasi
berbagai pemberontakan, khalifah mengundang kekuatan asing. Akibatnya, kekuatan
asing tersebut memanfaatkan kelemahan khalifah.
d. Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yag tiada
henti antara Abbasiyah dan Alawwiyah menyebabkan kekuatan umat islam menjadi
lemah, bahkan hancur berkeping-keping.
Perang ideologi antara Syiah dari Fattimiyyah melawan
Ahlussunah dari Abbasiyah, banyak menimbulkan korban. Aliran Qaramithah yang
sangat ekterm dalam tindakan-tindakannya yang dapat menimbulkan bentrokan di
masyarakat. Kelompok Hashshashin yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah yang
berasal dari Thus di Parsi merupakan aliran Ismailiyah. Salah satu sekte Syiah
adalah kelompok yang sangat dikenal kekejamannya, yang sering melakukan
pembunuhan terhadap penguasa Bani Abbasiyah yang beraliran Sunni. Pada saat
terakhir dari hayatnya Abbasiyah, tentara Tartar yang datang dari luar dibantu
dari dalam dan dibukakan jalannya oleh golongan Awaliyin yang dipimpinoleh Al Qamiy.
e. Kemerosotan ekonomi. Terjadi karena banyaknya biaya
yang digunakan untuk anggaran tentara, banyaknya pemberontakan dan kebiasaan para
penguasa untuk berfoya-foya,kehidupan para khalifah dan keluarganya serta
pejabat-pejabat negara yang hidup mewah, jenis pengeluaran yang makin beragam,
serta pejabat yang korupsi, dan semakin sempitnya wilayah kekuasaaan khalifah
karena telah banyak provinsi yang telah memisahkan diri.
2. Faktor Ekstern
Disintegrasi,
akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan
islam daripada politik, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai
melepaskan diri dari genggaman penguasa
Bani Abbasiyah. Mereka bukan sekadar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah,
tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di Baghdad. Hal ini
dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga
menghancurkan sumber daya manusia. Yang paling membahayakan adalah pemerintahan
tandingan Fatimiyyah di Mesir walaupun pemerintahan lainnyapun cukup menjadi
perhitungan para khalifah di baghdad. Pada akhirnya, pemerintahan-pemerintahan
tandingan ini dapat ditaklukan atas bantuan Bani Saljuk atau Buyah.[14]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah
adalah pengubah peradaban dunia Islam setelah Dinasti Umayyah, yakni selama 5
abad, dari 750-1258M. Dinasti inipun berasal dari nama keluarga Bani Hasyim,
yang seketurunan dengan Nabi Muhammad SAW. Pada zaman Abbasiyah, konsep
kekhalifahan (pemerintahan) berkembang sebagai sistem politik. Pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sisial, ekonomi dan budaya.
Dinasti ini
mengalami kemajuan di berbagai bidang. Dan juga mengalami kemunduran yang
disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern. Kehancuran dinasti ini juga
mengalami kehancuran yang disebabkan oleh faktor intern dan faktor ekstern.
B.
Saran
Penulis menyadari
bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Karenanya, saran dan kritikan yang
sifatnya membangun, sangat diharapkan dari semua pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta:
PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
H. Darsono, T.Tabrani. 2009. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam.
Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Departemen Agama RI. 2000. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta:
Departemen Agama RI.
Misbah, Ma’ruf., Ja’far Sanusi. 1984. Sejarah Peradaban Islam.
Semarang: CV Wicaksana.
Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Supriyadi. Dedy. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka
Setia
Wahid, N Abbas dan Suratno. 2009. Khazanah Sejarah Kebudayaan
Islam. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Samsul, Munir. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
[1] Departemen
Agama RI, op. cit., hlm. 41.
[2]Wikipedia Bahasa Indonesia. “Kekhalifahan Abbasiyah”. [Online].
Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan-Abbasiyah yang dikutip pada 1 Okt 2017 19:35:40.
[3] Badri yatim, op. cit., hlm. 49.
[4] Taqwa, op.
cit., hlm. 6.
[5]
Wikipedia Bahasa Indonesia. “Kekhalifahan Abbasiyah”. [Online].
Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan-Abbasiyah yang dikutip pada 1 Okt 2017 19:35:40.
[6] Taqwa, op.
cit., hlm. 7.
[7] Taqwa, op.
cit., hlm. 7.
[8] Departemen
Agama RI, op. cit., hlm. 41.
[9] Departemen
Agama RI, op. cit., hlm. 42.
[10]
Dimodifikasi dari Philip K. Hitti, dari hlm. 332-416.
[11] Sejarah Peradaban Islam, hlm. 130-135.
[12]Sejarah Negara. “Faktor Intern dan Ekstern Kemunduran Dinasati
Abbasiyah”. [Online]. Tersedia: http://www.sejarah-negara.com/2015/08/faktor-intern-dan-ekstern-kemunduran-dinasti-abbasiyah.html. Dikutip pada 1 Okt 2017 20:01:55.
[13]
Sejarah Negara. “Faktor Intern dan Ekstern Kemunduran Dinasati
Abbasiyah”. [Online]. Tersedia: http://www.sejarah-negara.com/2015/08/faktor-intern-dan-ekstern-kemunduran-dinasti-abbasiyah.html. Dikutip pada 1 Okt 2017 20:01:55.
[14] Sejarah Peradaban Islam, hlm. 141.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar